“Aduh! 5 menit lagi jam 5, Papa pasti marah kalau aku
telat.”
Hai! Namaku Juna, Arjuna tepatnya. Saat ini aku sedang
terburu-buru menuju ke suatu tempat. Aku harus ke rumah sakit. Bukan karena aku
sedang sakit, tapi aku harus pulang bersama Papaku. Papa seorang dokter senior
disana. Aku harus memperlebar langkahku sekarang. Papa sangat tidak suka dengan
orang yang tidak ‘on time’.
Aku, Juna. Aku seorang siswa di sekolah menengah atas. Aku
adalah anak semata wayang. Aku hanya tinggal dengan Papaku. Hartaku
satu-satunya. Mengapa? Seandainya saja aku tahu siapa Mamaku, mungkin harta
berhargaku bukan hanya Papa.
Hari itu Papa membangunkanku. Kulihat jam menunjukkan pukul
1 malam. Menyebalkan sekali!
“Ada apa sih, Pa? Tengah malem gini bangunin Juna.”
protesku.
“Dasar pelupa! Hari ini kan ulang tahun kamu. Ayo bangun
sekarang! Cepat! Atau Papa siram kamu pake air se-ember.” kata Papa sambil
tertawa. Kenapa aku bisa lupa ulang tahunku sendiri? Hmmm Papa benar, aku
memang benar-benar pelupa. Dengan mata setengah tertutup aku mengikuti langkah
Papa menuju teras belakang. Papa memintaku duduk dan menutup mata. Hmmm
sebentar lagi pasti ada kue dan lilin angka 17 di hadapanku. Benar saja,
dugaanku tak pernah meleset. Ini terlalu mainstream Pa, please.
“Make a wish dulu dong, Jun.” cegah Papa saat aku akan
meniup lilin. Malas sekali! Aku bukan anak kecil lagi, Pa. Lagipula harapan itu
tak pernah jadi kenyataan. Setiap ulang tahunku aku selalu mengucapkan harapan
yang sama. Tapi apa? Sia-sia saja Papa tak mengabulkannya, Tuhan juga tak
mendengarnya. Kalian ingin tahu apa harapanku? ‘Aku hanya ingin bertemu Mamaku’
sekali saja. Seumur hidupku aku tak pernah tahu tentangnya. Menyedihkan sekali
bukan?
“Jun, apa harapan kamu? Sekarang kamu udah 17 tahun. Gak
terasa ya, rasanya baru kemarin Papa nganter kamu ke TK” celoteh Papa dengan
sedikit tertawa
“Pa, Papa mau tahu harapan Juna?” Kulihat Papa mengangguk
pasti.
“Juna mau ketemu Mama.” ucapku tegas. Kulihat air muka Papa
berubah. Tawanya berubah menjadi murung. Maaf Pa, aku hanya ingin tahu. Itu
saja.
“Jangan bercanda Juna! Papa serius, apa yang kamu mau? Apa
itu topi? Baju? Sepeda? Oh iya, sepeda kamu rusak, kan?” kata Papa mulai
mengalihkan pembicaraan.
“Juna juga serius, Pa. Juna gak butuh itu semua. Juna cuma
mau tahu mama. Selama ini Juna tersiksa, Pa. Juna bahkan gak tahu nama Mama.”
ujarku kesal. Papa hanya terdiam. Aku kesal sekali. Setiap aku bertanya tentang
Mama, selalu saja Papa mengalihkan pembicaraan. Apa yang terjadi sebenarnya?
Apakah haram bagiku untuk tahu siapa Mamaku?
“Papa bosan denger omongan kamu itu, Juna!”
“Juna juga bosan bilangnya. Apa salah kalau seorang anak menanyakan
ibunya, Pa? Juna berhenti bertanya kalau Papa menjawabnya.”
“Udahlah, Juna! Jangan tanyain itu lagi. Kamu anak yang
penurut, kan?” Ah, sial! Lagi-lagi seperti itu. Aku tak berani lagi menjawab
jika Papa sudah berkata seperti itu. Bagaimanapun, aku sangat menyayanginya.
Maafkan aku, Pa.
Keesokan harinya aku sudah melupakan kejadian malam itu.
Rencananya hari ini aku akan pergi ke perpustakaan favoritku. Disana aku bisa
bertemu sahabat-sahabatku. Aku mengenal mereka karena kami sama-sama menjadi member
di perpustakaan itu. Ada tiga sahabat yang selalu ada dan mendengarkan ceritaku
ketika aku bertengkar dengan Papa. Yang pertama, Ren namanya. Ia seorang
insinyur dan sudah memiliki dua anak. Usianya 33 tahun. Di sela-sela
kesibukannya, ia selalu menghabiskan hari Minggunya di perpustakaan ini.
Benar-benar sosok yang menginspirasi. Yang kedua, Temai namanya. Usianya 30
tahun. Wanita yang cantik dan lembut hatinya. Ia juga sudah memiliki seorang
anak. Ia hanya ibu rumah tangga biasa. Dulunya ia bekerja sebagai sekretaris,
tapi setelah menikah ia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Dan
yang terakhir, Shady namanya. Usianya 25 tahun. Ia seorang dokter muda dan
belum menikah. Mereka sudah seperti kakakku. Persahabatan yang aneh memang,
tapi kami saling menyayangi layaknya saudara. Seandainya saja kami adalah
saudara, aku akan sangat bahagia.
“Kamu kenapa, Jun? Berantem lagi sama papa kamu?” tanya Kak
Temai mengagetkanku.
“Ah, ngga Kak. Cuma kurang tidur aja.” elak ku. Tiba-tiba
Kak Temai mengeluarkan sebuah kotak. Disusul oleh kotak dari Kak Ren dan Kak
Shady yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
“Selamat ulang tahun, Juna!” kata mereka serempak.
“Tapi itu kemarin, Kak.”
“It’s okay, Jun. Ini masih bulan Juni, kan? Sah-sah aja
kalau kami mengucapkannya sekarang.” kata Kak Ren.
“Iya, Jun. Lagian ini kan rezeki, masa ditolak sih?” kata
Kak Shady tak ingin kalah.
“Terima kasih Kak. Kalian memang yang terbaik. Aku bukanya
di rumah aja ya?”
“It’s okay terserah kamu saja.”
Setelah itu kami mulai sibuk membaca. Akhir-akhir ini aku
menggilai buku astronomi. Itulah mengapa aku ingin puas menghabiskan waktuku
membaca beberapa buku yang tebal itu. Tapi dimana mereka? Kak Ren? Kak Temai?
Kak Shady? Apa mereka sudah pulang? Tidak, mereka pasti izin dulu padaku. Aku
melangkahkan kaki ku mengitari ruangan yang cukup besar itu. Itu dia! Mereka
sedang berdiskusi di meja pojok ruangan. Apa yang mereka bicarakan? Apa itu
rahasia?
“Aku gak tahan lagi. Sampai kapan kita mau pura-pura jadi sahabatnya?
Dia udah dewasa sekarang. Dia harus tahu yang sebenernya.” kata Kak Temai
sambil berlinang air mata.
“Tenanglah, Kak. Kita harus menunggu intruksi dari Om Rio.
Bukannya dia pernah janji akan memberitahu Juna jika usianya udah 17 tahun?”
kata Kak Shady.
“Kita serahkan aja sama Om Rio. Jangan gegabah. Percayalah.
Bagaimana kalau hari ini kita ke makam saja. Setuju?” kata Kak Ren dengan
tenang.
Apa yang terjadi? Mengapa Kak Temai menangis? Mengapa mereka
menyebut-nyebut nama Papa dan aku? Aku benar-benar tidak mengerti. Sudahlah,
bukan urusanku juga. Aku segera kembali ke tempat duduk ku.
“Jun, kami harus pergi ke suatu tempat. Kamu gak apa-apa kan
sendiri disini?”
“Kalian mau kemana, Kak? Boleh aku ikut?” pintaku sambil
memelas.
“Lain kali saja ya, kami sedang terburu-buru.” kata Kak Ren
sambil berlalu meninggalkanku. Hmm ya sudahlah aku teruskan membaca saja sampai
jam 5 sore nanti.
Sesampainya dirumah aku mendapati Papa sudah berdiri di
depan pintu rumah sambil memasang mimik kesalnya padaku.
“Darimana saja kamu? Jam segini baru pulang. Papa pulang
lebih awal buat kamu tapi kamu malah keluyuran gak jelas!” seru Papa.
“Juna pulang dari perpustakaan, Pa. Juna keasyikan baca
sampai lupa waktu. Maaf Pa, Juna gak tahu Papa pulang cepat hari ini.” kataku sambil
menunduk. Aku segan pada Papa.
“Ya udah, ayo kedalam. Cepat mandi lalu makan. Papa udah
masak banyak buat kamu.” kata Papa sambil mengusap kepalaku. Papa memang yang
terbaik! Terima kasih, Pa.
Malam itu Papa sangat baik padaku. Papa membelikanku banyak
hadiah. Tapi apa yang aku inginkan tetap saja tidak ada. Papa memintaku membuka
hadiah-hadiah itu. Ada sepuluh kado. Dengan ukuran yang berbeda-beda. Papa
menyuruhku membukanya dari kado yang paling kecil. Hmm tidak ada yang istimewa.
Kulihat kado kesepuluh. Kotak berwarna biru cerah dan bertuliskan ‘Some love
stories live forever’. Aku penasaran sekali apa isinya. Sepertinya kotak itu
sudah lama sekali disimpan. Warnanya sudah sedikit pudar.
Aku mulai membukanya. Disana terdapat tiga buku diary dan satu
album foto yang tebal. Juga terdapat bunga, cincin, dan benda-benda cantik
lainnya.
“Kamu mau tahu tentang Mama kamu, kan? Itulah jawaban Papa,
Jun.” kata Papa sambil tersenyum tipis. Aku belum mengerti apa ini. Aku membaca
buku diary pertama. Disana tertulis nama ‘Karina’. Aku mulai membaca lembar
demi lembar diary ini. Isinya sangat menyentuh hati. Tentang perasaan seorang
wanita yang sangat mencintai kekasihnya. Sepertinya ia sangat bahagia.
Kisah-kisah yang sangat manis, Karina. Lalu aku membaca diary kedua yang
bertuliskan ‘Haris’. Rupanya ini adalah diary kekasih Karina. Mereka saling
mencintai. Kisah cinta yang sangat indah. Siapapun yang membacanya pasti akan
mengatakan hal yang sama.
Lalu tanganku mulai bergerak membuka diary ketiga yang
bertuliskan ‘You are mine and I’m yours’. Aku mengerti sekarang diary ketiga
ini adalah diary mereka berdua yang mereka isi setelah mereka resmi menikah.
Mereka menuliskan semuanya disini. Dan yang membuatku terkejut adalah aku
membaca bahwa mereka memiliki tiga orang anak, yaitu Ren, Temai, dan Shady. Apa
ini? Apa aku tidak salah baca? Ataukah mataku sedang terganggu? Tidak, ini
nyata. Aku membaca nama-nama itu berkali-kali. Apakah mereka bersaudara?
Mengapa mereka tidak memberitahuku. Dan pada lembar terakhir, mereka menuliskan
bahwa mereka memiliki seorang anak lagi, Arjuna namanya. Tanggal lahirnya sama
dengan tanggal lahirku. Mungkinkah…
“Pa, ini…” kataku terbata-bata.
“Iya, nak. Karina itu ibu kamu. Haris ayah kamu. Ren, Temai,
dan Shady itu saudara-saudara kamu.” kata Papa sambil menahan tangis.
“Maafkan Papa, Nak. Papa bukan ayah kandung kamu. Maafkan
Papa, Juna.” Aku hanya bisa terdiam. Bagai disambar petir aku mendengar
kenyataan itu. Bagaimana mungkin?
“Maaf, Pa. Juna cape. Juna ingin istirahat. Selamat malam,
Pa.” ucapku sambil pergi menuju kamarku. Badanku mendadak lemas dan kepalaku
pusing. Ini hanya ilusi saja. Ini tidak nyata, Juna. Papamu hanya bercanda.
Di dalam kamarpun mataku sulit memejam, padahal aku
mengantuk. Untungnya besok aku sudah libur semester, tak masalah meskipun malam
ini aku tidak tidur. Karina dan Haris? Ibu dan ayah kandungku? Tidak mungkin.
Aku percaya saja jika Karina adalah ibuku. Tapi tidak dengan Haris. Jika ia
adalah ayah kandungku, lalu siapa Papa? Aku benar-benar sakit kepala
memikirkannya. Ya Tuhan, beri aku penjelasan. Aku sedang kalut sekarang.
Tolonglah hambamu ini Ya Tuhan. Aku menangis tanpa suara. Aku tak ingin Papa
mendengarnya. Tak terasa akupun terlelap.
Aku terbangun di sebuah taman. Hei, aku kenal taman ini. Ini
taman di samping perpustakaan itu. Indah sekali suasananya. Apakah aku sedang
bermimpi? Tapi sepertinya ini nyata. “Juna… Juna… Juna…” samar-samar kudengar
seseorang memanggil namaku. Aku menoleh, tampak seorang laki-laki tersenyum
kepadaku. Ia sangat bersih, memakai baju serba putih, wangi, dan wajahnya
bercahaya. Ia melambaikan tangannya sebagai isyarat aku harus menghampirinya.
Entah mengapa aku menurut saja.
“Kau mirip sekali denganku. Hahaha.” katanya sambil tertawa.
Aku heran siapa dia? Mengapa dia tahu namaku dan mengatakan aku mirip
dengannya? Apa dia Haris?
“Ya, aku Haris, Juna. Ayahmu yang selalu menyayangimu.” Apa?
Apa dia bisa membaca pikiranku?
“Tenanglah, nak. Ini bukan mimpi. Ayah sudah lama sekali
ingin menemuimu, tapi baru sekarang Ayah diizinkan. Ayah hanya ingin mengatakan
Ayah dan Ibu sangat sangat sangat menyayangimu. Jika kamu tak percaya, baca
kembali diary-diary itu dengan seksama. Maka kamu akan mengetahuinya. Ayah
selalu mendoakanmu, Juna. Selalu…” kata Ayah sambil memelukku lalu menghilang.
“Ayah, Ayah, Ayah!” kataku sambil berteriak. Dan ternyata
itu hanya mimpi. Tapi mengapa begitu terasa nyata. Harum tubuh Ayah masih
melekat di bajuku. Aku bahagia sudah bertemu Ayah walau itu hanya dalam mimpi
dan hanya sekejap saja. Terima kasih sudah menyayangi dan mendoakan aku, Ayah.
Aku juga menyayangimu.
“Juna! Juna! Bangunlah sudah siang!” suara Papa memulihkan
kesadaranku. Aku segera bangun dan menghampiri Papa yang sedang memasak di
dapur. Aku ingin bercerita padanya. Tapi hatiku menolak. Itu pasti akan
menyakiti hatinya.
“Hei, kenapa ngelamun? Kamu udah cuci muka, kan?” kata papa
mengagetkanku.
“Eh iya, Pa. Aku lupa, hehe.” Kataku sambil menuju kamar
mandi.
“Kamu persis ibumu, pelupa sekali.” gumam Papa, tapi aku
masih bisa mendengarnya.
“Juna, kamu marah sama Papa?” tanya Papa memulai pembicaraan
saat sarapan pagi.
“Kenapa Papa bilang gitu? Buat apa Juna marah sama Papa.”
“Kamu kelihatan marah. Jujur saja, nak.”
“Juna tidak marah, Pa. Hanya butuh waktu untuk berpikir.
Coba bayangkan kalau Papa jadi Juna? Juna memang sedang kalut sekarang tapi apa
pantas Juna marah sama Papa?”
“Tanyakanlah apa yang kamu ingin tanyakan. Jangan memendam
itu sendirian. Papa berangkat dulu, Nak. Hati-hati di rumah.” kata Papa sambil
berlalu pergi. Aku hanya bisa memandangi punggungnya yang kian menjauh. Nanti
saja, Pa. Jika pikiranku sudah membaik aku akan menanyakan semuanya pada Papa.
Suasana rumah sakit cukup ramai siang itu. Tampak Pak Rio
sedang terburu-buru menemui Shady.
“Shady, bisakah kita bicara sebentar?”
“Baik, Om. Ada apa?”
“Begini, seperti janji Om, Om sudah memberitahu Juna. Tapi
dia tak banyak bicara sekarang. Om takut dia stress dan tertekan. Menurutmu apa
yang harus Om lakukan?”
“Benarkah? Menurutku Om biarkan saja dia. Dia sedang
terguncang sekarang. Ia butuh waktu untuk sendirian. Jika sudah membaik, Shady
yakin dia akan berbicara. Om tenang saja.”
“Begitukah? Baiklah terima kasih, Shady. Om akan menghubungimu
lagi nanti.”
Hmmm bosan sekali liburanku kali ini. Aku ingin pergi ke
perpustakaan tapi sepedaku rusak. Tunggu, bukankah ada diary-diary itu? Aku
akan membacanya lagi. Kali ini benar-benar menggunakan perasaanku.
Ayah benar, cinta Ayah dan Ibu tak pernah habis untukku.
Meskipun mereka tak berada disampingku lagi tapi cintanya tak pernah mati. Aku
bersyukur memiliki Ayah dan Ibu yang luar biasa. Tak terasa pipiku mulai basah
oleh air mata.
“Juna…” terdengar suara Papa.
“Eh, Pa. Papa udah pulang? Tumben, ini kan baru jam 2.”
“Ayo ikut Papa, Nak.” kata Papa dengan lembut.
“Iya, Pa. Juna ganti baju dulu.”
Papa mengajakku ke sebuah pemakaman. Makam-makam disitu
terlihat rapi dan hampir mirip. Tapi ada dua makam yang terlihat berbeda. Makam
itu tidak ditumbuhi rumput liar dan berada di bawah pohon mangga yang
rindang.
“Juna, ini makam ayah ibu kamu. Ayo ucapin salam dulu.”
pinta Papa.
“Assalamualaikum, Ibu. Assalamualaikum, Ayah.” ucapku sambil
tersenyum.
Kami pun membacakan doa untuk Ayah dan Ibuku. Tak lama Papa
mulai bercerita.
“Juna, kamu tahu? Papa tanam pohon mangga ini 17 tahun yang
lalu. Gunanya supaya pohon ini bisa melindungi makam ini dari panas matahari
dan hujan. Dan mangga itu buah favorit ibu kamu.”
“Makam ini juga bersih karena Papa menyuruh seseorang
membersihkannya setiap pagi.” lanjut Papa. Pantas saja makam ini terlihat
berbeda dari makam-makam yang lain. Di sebelah kiri makam Ayah dan di sebelah
kanan makam Ibu. Tertulis di batu nisan Ayah dan Ibu meninggal di hari yang
sama. Mereka lahir di tahun yang sama. Ayahku 4 bulan lebih tua dari Ibu.
“17 tahun yang lalu kamu lahir di rumah sakit tempat Papa
kerja. Ayah dan Ibu kamu senang. Kakak-kakak kamu juga. Hari itu gak ada yang
gak bahagia dengan lahirnya kamu. Karina menamai kamu Arjuna karena kamu
ganteng. Beda dari Ren dan Shady.” kata Papa sambil tertawa
“Tapi sehari setelah kamu lahir, ada kebakaran di rumah
sakit itu. Kebetulan Papa sedang ada di lantai dasar, sementara kalian ada di lantai
5. Dan kebakaran itu asalnya memang dari lantai 5. Papa berusaha naik untuk
menyelamatkan kalian. Saat itu lantai 5 sudah benar-benar penuh oleh asap, tapi
Papa terus maju sampai akhirnya bertemu kalian. Tiba-tiba langit-langitnya
runtuh dan menimpa Ayah dan Ibu kamu. Posisi Haris melindungi Karina, Haris pun
meninggal. Posisi Karina melindungi kamu. Karina masih sadar dan dia sempat
bilang sesuatu sama Papa. Dia bilang ‘Rio tolong jaga anak kami. Katakan
padanya kami selalu menyayanginya’. Papa menjawab ‘Tidak, Rin. Kamu harus
bertahan. Kita jaga anak ini sama-sama. Kamu mau lihat dia tumbuh kan? Kamu
pasti bisa bertahan, Rin.’ Tapi Karina tidak menjawab lagi. Dia sudah menyusul
suaminya. Sejak itu lah kamu jadi amanah terbesar dalam hidup Papa. Papa
bersumpah sampai akhir hidup Papa, Papa akan menjaga dan menyayangi kamu
seperti Ibu dan Ayah kamu.” Papa menghentikan ceritanya, ia menangis. Aku juga
ingin menangis melihatnya.
“Terima kasih, Pa. Terima kasih.” kataku menghibur Papa.
“Juna gak tahu harus gimana membalas jasa-jasa Papa.”
“Tidak, Nak. Papa cinta kamu dengan tulus. Kamu amanah di
hidup Papa. Gak pernah sekali pun Papa berpikir kamu bukan anak Papa. Kamu
adalah anak Papa, Arjuna.”
Aku langsung memeluk Papa. Terima kasih Tuhan, Kau telah memberiku
malaikat yang tulus mencintaiku tanpa syarat, walaupun aku harus kehilangan dua
malaikatku yang lain.
“Arjuna…” terdengar suara seorang wanita memanggilku. Taman
di perpustakaan ini lagi. Sepertinya aku bermimpi lagi.
“Arjuna…” suara itu terdengar lagi. Aku mulai mencari asal
suaranya. Dan kulihat seorang wanita cantik dan bercahaya duduk di bangku
taman. Ia mulai memanggil namaku lagi. Aku menghampirinya dan duduk di
sampingnya. Ia tersenyum, manis sekali. Tunggu aku kenal senyum itu. Itu mirip
senyuman Ibu ku di foto. Apa wanita ini memang Ibuku?
“Arjuna, kesayangan Ibu. Ini Ibumu, anakku.”
“Ibu! Ibu! Ibuku!” kataku sambil memeluknya. Nyaman sekali
pelukannya. Terasa hangat dan aku tak ingin melepaskannya. Orang-orang memang
benar, tempat paling nyaman adalah dekapan seorang Ibu.
“Kamu rindu Ibu, ya?”
“Aku rindu Ibu setiap hari.”
“Alah rayuan gombal, persis Ayahmu.” kata Ibu sambil
mencubit tanganku.
“Juna, kamu senang bertemu Ibu?” kata Ibu sambil mengusap
lembut kepalaku.
“Senang sekali. Bagaimana dengan Ibu?”
“Lebih dari yang kamu tahu. Sudah lama sekali Ibu ingin
bertemu kamu. Tapi Tuhan mengizinkannya sekarang. Ini bukan mimpi, Juna. Ini
nyata. Kamu sedang bersama Ibu sekarang.” Aku mempererat pelukanku. Aku tak
ingin Ibu pergi lagi.
“Juna, kamu tahu? Perpustakaan ini adalah rumah kita. Ayah,
Ibu, Kak Ren, Kak Temai, Kak Shady, dan Papa Rio membangun perpustakaan ini.
Dan Ayahmu membangun rumah kita di atasnya. Kapan-kapan kamu boleh berkunjung
ke lantai atas. Ada banyak benda-benda kenangan kita disana. Ibu tahu Papa Rio
menjaganya dengan sangat baik. Dan Ibu tahu Papa Rio menjaga dan menyayangi
kamu dengan ketulusan hatinya. Jadilah anak yang baik untuknya.” ucap Ibu
sambil mengusap kepalaku.
“Juna maafkan Ayah dan Ibu, ya. Kami tidak bisa merawat
kamu, menjaga kamu, melihat perkembangan kamu. Kami sangat ingin melakukannya,
tapi Tuhan berkata kami harus pulang. Kami …”
“Sudahlah, Bu. Jangan meminta maaf. Ayah dan Ibu tidak
salah. Aku bahagia dan bangga memiliki orang tua seperti kalian. Aku baik-baik
saja kan sekarang?”
“Satu hal yang harus kamu tahu Juna. Kami selalu menyayangi
kamu. Selalu. Papa Rio dan kakak-kakakmu juga sangat menyayangi kamu. Kamu juga
pasti merasakannya.”
“Iya, Bu. Aku juga menyayangi Ayah, Ibu, Papa Rio, Kak Ren,
Kak Temai, dan Kak Shady selamanya.” kataku sambil terisak. Aku sangat bahagia
bertemu Ibuku. Wanita yang aku rindukan selama 17 tahun hidupku. Tuhan, jika
ini mimpi jangan bangunkan aku dulu, aku ingin bersama Ibuku lebih lama lagi.
Keesokan harinya, ketiga kakakku datang berkunjung. Kak Ren
dan Kak Temai membawa keluarganya sedangkan Kak Shady membawa kekasih barunya.
Mereka membawakanku banyak hadiah, mereka juga memberiku pelukan. Bahkan Kak
Temai tak berhenti menangis karena terharu. Huh dasar wanita! Ibu benar, mereka
sangat menyayangiku.
Aku sangat beruntung memiliki kakak sebaik dan setulus
mereka. Ada rasa iri karena mereka sempat merasakan kasih sayang Ayah dan Ibu.
Tapi aku juga merasakannya. Aku tahu Ayah dan Ibu selalu mendoakan yang terbaik
untukku. Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Ibu.
“Pa, kenapa Papa gak cari Mama buat Juna?”
“Apa sepenting itu Mama buat kamu?”
“Ngga juga sih. Bukan buat Juna, kan Juna punya Ibu Karina.
Mama itu sosok yang akan melengkapi Papa.”
“Bicara apa sih kamu, Jun? Jangan ngawur.”
“Juna serius, Pa. Apa Papa gak punya seseorang yang Papa
suka?”
“Kalau Papa jujur, nanti kamu marah.”
“Maksudnya, Pa?”
“Haha, Papa suka sama Karina, Ibu kamu.”
“Apa?” aku terkejut.
“Tuh kan kamu marah. Papa gak akan lanjutin ceritanya.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar